Saturday, February 28, 2026

0

Korea Keenam





Selamat pagi.

Hari ini Ramadhan hari kesepuluh jam 6.10 selepas Subuh.

Guess where I am? Tentunya di kamar depan komputer… tapi bukan di Indonesia melainkan di Korea Selatan, di rumah kakak.

Agak lucu sebenernya, mulai main kesini dari Oktober 2022 sampai Mei 2025 dan jika ditotal exact 5 kali bertandang Indonesia-Korsel tapi nampaknya tidak ada cerita di blog yang mentioned itu (seingetku). Tapi sekarang sepertinya diri ini sadar kenapa kalau visit dan stay selama sebulan di sini tidak ada concern yang perlu sampai ditulis karena dalam 1 bulan itu isinya adalah kangen-kangenan, makan enak (alhamdulillah), jalan-jalan bersama Lulu (anabul kesayangan), dan ditutup dengan kesedihan menjelang pulang sambil nangis sek-sekan gak mau pulang ke Jakarta.

Namun, dikarenakan ini hari ke-34 semenjak datang 24 Januari lalu– yang berarti sudah melebihi beberapa hari dibandingkan visit-visit sebelumnya– pada akhirnya di tgl 13-14 Februari 2026 yang berarti baru 21 hari stay, diri ini breakdown se-breakdown breakdown-nya.

Sebetulnya, malam itu malam Jum’at biasa di mana kalau sesuai request, akan kuterima permintaan memijit kakak yang sedang hamil itu. Sedang ngobrol biasa tiba-tiba keinget kalau rindu juga rasanya keluar main ajak sahabat dan langsung pergi spending time untuk sekedar makan atau nonton atau window shopping. Nangis sejadi-jadinya, gak berhenti walau diselingi tawa karena as always, cara kakak coping ngeliat adiknya nangis adalah ketawa ngeledek. Aku bilang: “Aku kangen main sama si ini.. ini.. ini” sambil nambahin, “Orang ekstrovert kayak aku tinggal sama kakak dan abang yang introvert. Aku gimana mau ngobrol.” dan hal-hal lainnya yang menyebutkan kalau aku adalah manusia yang butuh ketemu manusia lainnya untuk ngobrol puanjang selain sama keluarga.

Setelah itu kakak cerita ke sahabatku dan suaminya, dan yah… lagi-lagi aku ditertawakan.

Kalau ingat sekarang, memang agak lucu sih. Perempuan dewasa hampir 29 tahun tantrum di depan kakaknya hanya karena jauh dari sahabatnya dan gak bisa main keluar-keluar seperti biasanya. Tapi jika di recall lagi, sepertinya banyak perasaan lain yang harusnya bisa di assess dengan journaling yang pada akhirnya baru bisa dikerjakan saat ini.

Sehabis breakdown itu, mulai catching up ke sahabat-sahabat lagi setelah sebelumnya sibuk dengan urusan keluarga dan lain-lain. Ngobrol lagi, chat lagi ke temen-temen sangat membantu memadamkan ego dan membawa kesadaran bahwa this kind of friendships that we are doing now are exchanging message or video call tanpa ada output asking for “Kapan ketemu?” or “Ayok ketemu”.

Nangis di malam itu juga sebetulnya bisa jadi adalah compile perasaan yang belum sempat keluar pada saat masa-masa sibuk prepare ini itu hingga pada akhirnya menginjakkan kaki di sini atas izin Allah dengan segala ke-Esa-an-Nya dalam menjaga urusan dan hajat hambanya. 

Semenjak Oktober 2025 di mana kalau recall di salah satu jurnal ituuuu di tanggal 25 Oktober 2025, aku nulis list pros and cons tinggal di Korea and stay di Indo. Nimbang-nimbang apakah emang ini jalannya? Apakah memang kudu lanjut plan-nya? Hari-hari jalan dengan segala dar der dor di Jakarta dan Rumah Nani jadi keseharian yang kalau dibilang sibuk banget enggak tapi tertekan iya (wehehehehe).

Berjalannya waktu, makin kelihatan jalan yang dibimbing arahnya sama Allah. Direction-nya keliatan menjorok ke keputusan yang memang harus berangkat. Dari kejadian di rumah yang bikin mikir kalau aku stay di Indo apakah menjadi manfaat seperti seharusnya tanpa harus merasa terlalu dimanfaatkan. Atau terkait kantor dari wacana full WFH, lanjut ke isu-isu dan ehh jadi betulan kejadian (padahal aku udah siapin term negosiasi jikalau tidak lolos izin WFH di Korea lebih dari sebulan). Serta urusan berkas-berkas yang alhamdulillah lancar karena hasil dari ketelitian dan persiapan dan modal yang mumpuni.

Banyak orang yang kenal dengan Giovanny tahu kalau komunikasi aku dengan kakakku itu intens hampir tiap jam exchanging message via KakaoTalk. Setiap hari memang kami saling chat-an dan God only Knows ini start dari tahun berapa. Jadi, 70% urusan sehari-hari kami setidaknya tertulis di app yang sahamnya paling makjleb di Korea ini. 

Balik lagi ke timeline yang segitu padetnya ndak bakalan jalan kalau bukan dari Ridho-Nya dan usaha yang diperjuangkan. Start bulan Oktober udah mulai planning-planning, Bulan November mulai izin-izin (Ke Nani, ke Kakak, ke Bos, dan ke orang terdekat) diikuti reservasi ina itu. Lalu bulan Desember urus berkas, manage keuangan, tes TBC (iyah, salah satu persyaratan visa), terus info-info lagi ke orang terdekat sampai akhirnya e-Paspor kelar, lanjut submit visa. 

Bulan Januari ketar-ketir menunggu visa, tiket pesawat belum dibeli sementara ngurusin pekerjaan lebih di forsir karena harus adjustment transisi dari hybrid ke WFH full sampai di rumah pun mencicil barang pribadi dan titipan yang akan di bawa (harus percaya diri approved karena sangat amat mepet jika bebelian dilakukan setelah visa approved). Januari ini juga maju mundur untuk should i say goodbye now or later dikarenakan I don’t want to get to the rock bottom after working hard on this plan to finally have to say goodbye to good opportunities. Hingga akhirnya setelah drama anxious, panik banyak pikiran karena visa (menceritakan kekhawatiran ini ke beberapa orang terdekat untuk minta di tenangkan karena saking ngerinya visa ditolak)... akhirnya hari Senin tgl 12 Januari 2025, visaku approved, syukur alhamdulillah, lanjut beli tiket pesawat yang sesuai dengan pertimbangan ina itu, dan finalize barang bawaan.

In the midst of it all, I make time to see my friends. Dengan energi yang alhamdulillah-nya masih gacor, I said goodbye face to face and get to spending time with them. Even though agak sedih karena harus ke airport sendiri, tapi aku bersyukur dapat abang bluebird baik (eh?) No no, aku bersyukur they sent me away with a lot of good words and prayers.

Sekarang, rasa syukurku datang tiap waktu. Ditambah di bulan baik ini dikasih kesempatan lagi untuk beribadah puol-puol-an sembari memperbaiki diri dan berusaha menjadi manusia yang bermanfaatnya berlipat lipat. Karena percayalah, Allah akan mengatur hajatmu in the best way every human ever asked. TAKBIR! ALLAHU AKBAR.

Bongdam-eup, Hwaseong-si, 07.56

All post locked will be opened if you input “gigiyoyo” when they asked for password


Sunday, September 14, 2025

0

Hey!

Hello.

Writing this on a fine Sunday morning.

I decided to lock all the posts because of the ease on my mind.

The idea of journaling in my mind currently at the moment is to absorb the writings personally.

This might sound like I couldn't care less what matters in real life. But the truth is, I just felt insecure.

So, yeah. I will not be blogging for maybe a very long time. Just gonna keep everything here recorded well and secured. Like there is people even care about this blog haha.

Bye.


Saturday, March 15, 2025

0

Hold me down

Protected Page


Terakhir di blog ini adalah assesment di akhir tahun 2024. Akhir 2024 seperti ancaman terakhir untuk teriak dalam hati kalau sudah waktunya untuk ngoyo lagi. That is why banyak sekali hal-hal yang digentrakin di awal tahun sampai dapat realisasi kalau grasak grusuk menjelang waktunya itu malahan bikin panik dan putus asa. Tidak seharusnya gerak cepat itu dapet hasil yang cepat dan tepat juga. Di waktu yang sama, kesel banget dengan kata-kata "teratur dan konsisten". Namun apa daya, dua kata itu adalah jawabannya selama ini. Akhirnya, setelah ada keinginan untuk menulis evaluasi di quartal pertama di 2025, marilah refleksi tentang semua yang terjadi beberapa bulan lalu hingga hari ini.

If I was looking back to January 2025, hampir tidak ada keinginan untuk cuap-cuap atau nulis-nulis untuk meregulasi hati dan pikiran karena tertekan dengan berbagai hal yang harus di kejar. Mungkin belum waktunya, I guess? So what I did was focus on writing all the plans. However, detailing your life plans is the most stressful in a way you just want to give up and go back to sleep, forgetting your urge to lived. Mengapa? Karena disitu kita tidak punya hal-hal nyata, cuma angan-angan yang numpuk dan ancang-ancang usaha yang belum kelihatan hilalnya sebelum digerakin untuk ngejalanin tugas demi tugas hingga sampai ke tujuan. 

Selain itu, setiap nulis planning with much much details, the other side of my brain was like: "Enough lah, gak bakal bisa dirimu sampe kesitu, jalanin dulu aja tanpa goal, yang penting jalan." Ohhh those bad side of me... gak gitu caranya mempertanyakan kemampuan diri ini, Giovanny... Sesuatu tanpa goal itu malah bikin gak maju-maju, seperti meloloskan diri dapat hasil yang kurang karena faktor lain, padahal kalau jujur pada diri sendiri usahanya aja yang kurang. Makanya taruh exact things like numbers and date in every list and that's a must!

Stres di bulan Januari sampai Februari awal adalah tahap yang berat banget wallahi... at the end cuma bisa panik, nangis, gak nafsu makan, balik lagi anxiety up up up. Tapi ada aja kekuatan yang memaksa lanjut terus mumpung external distraction masih kecil-kecilan. Ditambah libur panjang saat itu sangat amat membantu gak direcokin kerjaan even still direcokin dikit-dikit.

Di pertengahan Februari, udah bisa mulai sedikit kurangin laju karena lebih aware sama diri sendiri kalau hal-hal yang harus dilakukan pada akhirnya bisa dikontrol kalau memang itu hajat kita (realisasi yang sudah disadari sejak dahulu kala tapi kadang-kadang keseringan lupa). Sedangkan yang bukan hajat kita, let Allah do His part. Bener-bener tenang di saat-saat itu. Semua kelihatan terang benderang karena finally, I know that part of myself will sticks with me for a long time which have been more insightful ketika ada di pertarungan ini.

Masih di pertengahan Februari itu, every songs, movies, or even reassurance from loved ones was just like a beautiful ringing to myself,. Pikiran negatif untuk menyanggah setiap nasihat yang diterima gak ada lagi, malah nasihat-nasihat itu yang bikin jadi penenang. Kebahagiaan orang-orang kesayangan juga bikin tambah-tambah menjadi faktor yang menambah keinginan lanjut berjuang. Lanjutlah diri ini siap mengusahakan semuanya kembali.

Nah, di masa tenang dan istirahat ini ternyata merupakan masa yang paling rentan dibandingkan masa juang lainnya. Apa yang udah dikerjakan sambil lari-larian sebelumnya berubah haluan menjadi jalan di tempat dengan dalih you deserve a rest from all this. Bahkan ada pemikiran dari diri sendiri kalau stuck itu wajar dan lanjut nanti-nanti aja karena toh aku juga occupied with other plans. Tapi the wiser me menyanggah itu semua dalam hati: "Ohhh bukan begitu caranya manusia..." Istirahat setelah lari-larian itu wajib biar kamu safe from falling, biar kamu gak terus-terusan merasa dikejar, biar kamu bisa menyerap makna apa yang bisa bikin kamu kuat lari-larian lagi. Pada saat udah mulai sadar untuk jalan lagi dan mengusahakan lagi, disitu juga agak-agak takut sama diri sendiri yang menunjukkan tanda-tanda kepribadian yang kadang termotivasi banget dan kadang loyo banget. Khusus untuk yang satu ini bahaya kalau dengan self-diagnose, akan lebih baik berobat sepertinya. Sumpah, visit psikolog kenapa wacana terus wahai diri?

Anyway, apa mau dikata, capek lari-larian, diri ini merasa perlu istirahat banyak karena menganggap tidak cukup kuat untuk ngos-ngosan kembali dalam waktu dekat. Akhirnya, yang tadinya cuma mau istirahat 1 minggu, jadi 2 minggu-ish karena alasan: "Lah wong aku ngerjain yang lain juga kok." Kalau udah sok-sok an begitu, serius, kesel banget ketemu bagian dari diri yang seperti ini. Pengen rasanya jitak terus seret ke jalan aja kalau bisa. But on other side, someone said do not being hard to yourself. Halah, ini otak plin-plan banget. Sebenernya kamu itu punya self-awareness atau tidak sih, Giovanny? 

At the end, karena terlalu lelah melawan diri sendiri di saat harus mengandalkan diri ini untuk lanjut, disitulah memutuskan untuk menggunakan bala bantuan eksternal. I am reaching out for help. I said that I don’t think I can meet the goal. How can I continue? Segala macam racauan dari omelan, lontaran kata-kata "terserah elu" yang amat sangat tidak di suka, sampai akhirnya dapat afirmasi positif dan motivasi, somehow make this self get back on the track

Tekanan eksternal dan tekanan deadline memanglah hal yang bisa membuat lanjut lari lagi. Tapi, ini adalah faktor ketika I did that "starting point" meaning that before this blockness, there are efforts which need to be continued. Aku sudah lari di awal dan ngos-ngosan, aku istirahat karena capek, nah pas lelah itu aku ngoyo, dan kengoyoan disitu yang bikin diri ini stuck untuk lanjut. Intinya, dukungan eksternal itu akan pleased to reach you once you are in the intermission. In the early phase, only YOU who can make it through dan bobok temboknya.

Setelah tekanan eksternal dan deadline, another crisis has arisen. Udah usaha macem-macem tapi ada aja rasanya yang menghalangi untuk sampai goal. In my case, masalah-masalah mulai bermunculan karena ada aja occassion segala macem yang bikin usahamu dinomorduakan. Kamusku, jangan sampai salah prioritas, jalani yang emang udah diusahakan berdasarkan rencana, dan kalau yang lain urgent dan tidak dapat terelakkan, make another plan to finish the urgent one first while continuing the effort. Wahhh bingung kan? Masa-masa kepala mau pecah, lagi-lagi males makan dan kamu akan merasa kalah ketika kamu jatuh sakit. That's what I experienced, mau segala sakit di hari-hari menuju deadline dan permintaan kerjaan semakin aneh-aneh, belum lagi masalah rumah ada aja gebrakannya dan ketika semuanya terasa kepepet, disitulah pertolongan Tuhan dan orang-orang kesayangan hadir. 

Balik lagi, apa yang memang sudah direncanakan dengan baik dan udah usaha itu gak selalu harus sesuai dengan kehendakku sebagai manusia. Rencanaku tidak ada apa-apanya dimata Tuhan. Tuhan benar-benar merancang segala hal yang baik untuk hambanya dan disitu sampai terheran-heran dengan hal-hal yang diluar kontrol diri ini. Hal-hal yang tidak sesuai dengan hajat kita, dibuat tepat dengan timing-nya Allah. Mana bisa aku lawan, yang bisa malahan bersyukur karena rencana-rencanaku di review sama Allah dan dibuat lebih baik lagi.

Dengan adanya revisi rencana yang diluar kontrol sebagai manusia, hal yang bisa dilakukan adalah menentukan skala prioritas. Diri kita gak bisa lanjut kalau badan gak sehat. Jadi usaha pertama adalah untuk mencegah dan mengobati sakitnya. Kencangkan doa, sampai-sampai ada di mana tetapin diri untuk nazar karena akupun bilang ke Allah lagi usaha begini bukan untuk diri ini aja tapi janji bakalan manfaat juga buat orang lain. Kalau lelah fisik, langsung gak skip dan benerin makan serta gejos dengan vitamin 2x lipat. Kalau capek hati, aku reach out ke sahabat dengan chat 1-2 jam sambil ngobrol untuk getting away sejenak. Sekalian terima kasih bagi siapapun sahabat yang ketika aku bilang udah lama banget gak ngobrol atau ketemu dan mereka langsung tahu kalau aku lagi gak kenapa-kenapa. Mereka langsung cas cis cus sharing their daily life with me karena timbal balik mendengarkan adalah anugerah dalam setiap interaksi manusia. Sangat amat berterima kasih untuk hubungan dua arah dari sahabat-sahabatku ini.

Sekarang, hurdle pertama sudah berhasil dilompati dan sampai di langkah yang lebih maju. Saat dapat hasil pertama, senengnya bukan main, langsung info ke orang-orang yang tahu segelintir rencanaku dan doakan segala kelancaran hajat ini. Kemudian lanjutlah hurdle kedua paralel dengan menunggu hasil sambil harap-harap cemas. Di tengah-tengah menunggu hasil dan tawakal, mari lanjut planning for all the possibilities. Tidak lupa juga rewarding myself once in a while.

Lastly, after two and a half months of hard work, I am writing this so I can let go of the feelings I have gone through. From the start until the rewards days ago, I am embracing all the moments and grateful to myself who is competing relentlessly with herself until now and knowing that she is loved at least by a few people around her. One thing I am not shy to ask people as if anyone reading this, is please pray for me, I could use some prayers in this current phase of my life. Thank you.


Friday, December 13, 2024

0

Assessment

Protected Page


Apart from the need to assess my subordinate at work, I think I should be the one who needs to assess my life at the end of this year.

Weeks ago, I came to a realization in the middle of some high frequency electronic dance music where the people around me were getting excited and jumping around with the hype. Then it clicked with my awareness that I was not comfortable being part of that kind of crowd. I had simply followed the opportunities that came for me but that was it. In the midst of it all, it felt like nothing really mattered.

Also, it came to my understanding that the society which I was raised in has become something I didn't care enough to try fixing because it was so corrupted by everyone that benefit from the systems.

Still in that crowd, I was observing. Most of the people whom attended the caremony have a stable jobs that somehow made them accompanied with their spouses/partners or even their children because that's what the ideal lifestyle looks like in this society. Looking at that pattern, I feel that marrying some Indonesian guy with steady jobs backed up with their existing parents and big family followed by some not-really-pure inheritance of wealth has never been an option for me. For one, I feel like I have nothing to offer. Secondly, I simply not wanting to be judged or pitied that I did not have alive parents or any proper family background to support me so (big insecurity detected). I think becoming someone's daughter or son is a privilege I didn't fully appreciate eight years ago.

I have come a long long way drama with messed-up relatives going around over the past 27 years of my life. While we live separate lives now, I have come to understand that relatives are just relatives, they are so much different with the main family (based on the importance and urgency). 

Honestly, I could just packed up my bag and leaving on a jet plane (?) because literally I was given an available-unused-space in this house where I resided for the past 7 years and now it got me thinking why I didn't go immediately after making some money? Is it because I still hold on to my beliefs? Customs? Some attachments issues? Or maybe the very close reasoning is simply because my salary isn’t enough to afford a proper personal place? 

What a misery it is to live in this country as sandwich generation/middle-class.

As I reflected from some silly self diagnosed videos in tiktok which believing that my toxic trait is attachment issue which I know I sound stupidbut honestly, It has become my thing that I will start to move on if I really really getting enough—or when I no longer feel like I have anything to do with those things anymore or the highest peek is when I am getting bored in a way it starts making me sick.

It is ironic to living the life where you are supposed to be grateful because you are in the "safe zone" yet after being the same conditions over and over. You will keep coming back to the same cycle: feeling grateful for your mundane life until the day comes when you have responsibilities not just for yourself but for someone else too. But hey, as long as you happy and fulfilled, I think that's a safe choice.

However, right now, I have nothing to lose. I am alonein a good way. I may be alone but I do have people who are my support system. Before I settle into a mundane life and have responsibilities to any other human that is part of me, I won't hesitate for a second to leave all this behind. Slowly but surely, I have started to form an exit plan. As someone who are full of passion and hundreds of goals to reach, told me, when you are starting somewhere, you also must plan an exit. That’s how you keep life moving forward, or at least keep the will to live it.

I know I will probably going to break down at some point in this exit plan if things didn't go well as planned, maybe in the middle of it, I will need helpnot only from my people but also from a psychologist, to help remind me to bring back all the reasoning in this head why I am still here.

Happy Friday, It is now Friday. Just 4 hours away to get back up and werk werk werk werk werk.


Friday, October 4, 2024

0

Older (and Wiser)

Protected Page

 


Not meant to reviewing the deluxe album of Lizzy McAlpine which was out hours ago, but with the release of her album, the album title was the muse of the theme of this writings (hopefully it will be out in the blog) and bring such a related content with what happened today—and again… hopefully this writings could be done and be shared on my blog.

Almost 2-years being in the main business of company, doing exactly what kind of work which guarding the wheels keeps spinning, I have learned so much comparing than I was in the other first and second positions before me.

The stressed thing was over almost a year after doing the work, post those times, I must say, the 70% of pressure was off and going smoothly. I am grateful for this kind of condition happening right now.

Well, I almost certain that I did make many connections in this phase. Approached people who I did not know before, coordinated with them to get things done and negotiating to reach into the agreement even after back-to-back doing internal discussion. Well, the negotiate part which I am still trying peel one by one until it got succeeded after my own decisions, but anyway, because of that, my communications skills were accelerating rapidly.

Back to today… after having meeting outside the office which felt hassled because how Jakarta in the afternoon was so damp and hot (Actually I still did not liking the feelings before doing the meeting)… I came to realization that in this age of mine, I was still lack of knowledge and it shows when I got to talk with my team which including my boss and my consultant.

I wanted to defend myself with some excuses on how my brain's frontal lobe just fully formed (?) just 2 years ago—which a compatible time for being an elegant-mature-smart adult who could get things done without asking my boss everything—or some reasons of me being friends with only a very limited number of people.

Anyway, having conversations with group of people who already done much—especially business in his/her work-life brings a mesmerizing thoughts also insecure feeling when you cannot catch up with what they are saying or only listening both of them talking aliens.

I know I much younger than them, and I very much certain that I needed that kind of convo for having challenges to keep learning… but also it is kind of scary when they know almost everything. There is no doubt that they will say that I am predictable and have this certain gen-Z attitude. And for the first time in my life… I was called introvert which I did not believe because I always knew I was extrovert or maybe all of my personality just all over the place now? I feel like I almost choked up when I was categorized by something I didn't even think before.

But anyway, in a reasonable portion—it is not having conversations with people who are much older than you was all horrible. It’s still awkward and you are trying to receiving all the information but it is more than fine and what I liked about it so much that I get opportunity to know what they are fussing about and also observing which I am hunger for more.