Saturday, June 20, 2026

0

family drama.



Day. 146

20 June 2026.


Even as an orphan (it starts dark), my life wasn’t problem-free when it came to the inner circle. My main family may not attend, and I am not functionally positioned as a part of the main family; however, there’s this kind of family, which is related and somehow becomes the substitute of the main one.


I could suddenly crumble when it comes to family and others' dysfunctional family dynamics, because right now, when all I have is family, one part says and reminds me that all I have is myself. This complexity led me to reflect on the meaning of family. My mindset was stuck that the main family consists only of Mother and Father, followed by Siblings.


With that kind of mindset, I start believing that the family that I call “family” is still not there yet— meaning that until I have met my other half and then have children myself, that’s the real family for me. Then the so-called “family” I have right now is not a definition of an exact family. I know that was incorrect, but it is hard to unlearn those with everything I have been through.


In Asian households, living with your family into adulthood is a common tradition. We choose to become dependent whenever we are ready to leave the house. Like me, after my parents passed away, I have been continuing to live in my grandmother’s house for 9 years. After that, I moved to my sister’s house, and it has been almost five months.


Being here, I could say it was not easy, yet one of the right decisions I could make for myself. Looking at what has been turning out with my job, with the economy back in my home country, and one thing revealed about family drama just today, which I am grateful that I am not in the place I used to be in the past 9 years, to directly go through those kinds of matters, because I know that if I were there, I could fall into the pit and never came back. It is right to stay out of trouble when you are leaving the mess that you didn’t make, however, you will get dragged in if you are staying in the same place.


Leaving is the answer. The arrangement Allah made for me to keep going on. 




Saturday, February 28, 2026

0

Korea Keenam





Selamat pagi.

Hari ini Ramadhan hari kesepuluh jam 6.10 selepas Subuh.

Guess where I am? Tentunya di kamar depan komputer… tapi bukan di Indonesia melainkan di Korea Selatan, di rumah kakak.

Agak lucu sebenernya, mulai main kesini dari Oktober 2022 sampai Mei 2025 dan jika ditotal exact 5 kali bertandang Indonesia-Korsel tapi nampaknya tidak ada cerita di blog yang mentioned itu (seingetku). Tapi sekarang sepertinya diri ini sadar kenapa kalau visit dan stay selama sebulan di sini tidak ada concern yang perlu sampai ditulis karena dalam 1 bulan itu isinya adalah kangen-kangenan, makan enak (alhamdulillah), jalan-jalan bersama Lulu (anabul kesayangan), dan ditutup dengan kesedihan menjelang pulang sambil nangis sek-sekan gak mau pulang ke Jakarta.

Namun, dikarenakan ini hari ke-34 semenjak datang 24 Januari lalu– yang berarti sudah melebihi beberapa hari dibandingkan visit-visit sebelumnya– pada akhirnya di tgl 13-14 Februari 2026 yang berarti baru 21 hari stay, diri ini breakdown se-breakdown breakdown-nya.

Sebetulnya, malam itu malam Jum’at biasa di mana kalau sesuai request, akan kuterima permintaan memijit kakak yang sedang hamil itu. Sedang ngobrol biasa tiba-tiba keinget kalau rindu juga rasanya keluar main ajak sahabat dan langsung pergi spending time untuk sekedar makan atau nonton atau window shopping. Nangis sejadi-jadinya, gak berhenti walau diselingi tawa karena as always, cara kakak coping ngeliat adiknya nangis adalah ketawa ngeledek. Aku bilang: “Aku kangen main sama si ini.. ini.. ini” sambil nambahin, “Orang ekstrovert kayak aku tinggal sama kakak dan abang yang introvert. Aku gimana mau ngobrol.” dan hal-hal lainnya yang menyebutkan kalau aku adalah manusia yang butuh ketemu manusia lainnya untuk ngobrol puanjang selain sama keluarga.

Setelah itu kakak cerita ke sahabatku dan suaminya, dan yah… lagi-lagi aku ditertawakan.

Kalau ingat sekarang, memang agak lucu sih. Perempuan dewasa hampir 29 tahun tantrum di depan kakaknya hanya karena jauh dari sahabatnya dan gak bisa main keluar-keluar seperti biasanya. Tapi jika di recall lagi, sepertinya banyak perasaan lain yang harusnya bisa di assess dengan journaling yang pada akhirnya baru bisa dikerjakan saat ini.

Sehabis breakdown itu, mulai catching up ke sahabat-sahabat lagi setelah sebelumnya sibuk dengan urusan keluarga dan lain-lain. Ngobrol lagi, chat lagi ke temen-temen sangat membantu memadamkan ego dan membawa kesadaran bahwa this kind of friendships that we are doing now are exchanging message or video call tanpa ada output asking for “Kapan ketemu?” or “Ayok ketemu”.

Nangis di malam itu juga sebetulnya bisa jadi adalah compile perasaan yang belum sempat keluar pada saat masa-masa sibuk prepare ini itu hingga pada akhirnya menginjakkan kaki di sini atas izin Allah dengan segala ke-Esa-an-Nya dalam menjaga urusan dan hajat hambanya. 

Semenjak Oktober 2025 di mana kalau recall di salah satu jurnal ituuuu di tanggal 25 Oktober 2025, aku nulis list pros and cons tinggal di Korea and stay di Indo. Nimbang-nimbang apakah emang ini jalannya? Apakah memang kudu lanjut plan-nya? Hari-hari jalan dengan segala dar der dor di Jakarta dan Rumah Nani jadi keseharian yang kalau dibilang sibuk banget enggak tapi tertekan iya (wehehehehe).

Berjalannya waktu, makin kelihatan jalan yang dibimbing arahnya sama Allah. Direction-nya keliatan menjorok ke keputusan yang memang harus berangkat. Dari kejadian di rumah yang bikin mikir kalau aku stay di Indo apakah menjadi manfaat seperti seharusnya tanpa harus merasa terlalu dimanfaatkan. Atau terkait kantor dari wacana full WFH, lanjut ke isu-isu dan ehh jadi betulan kejadian (padahal aku udah siapin term negosiasi jikalau tidak lolos izin WFH di Korea lebih dari sebulan). Serta urusan berkas-berkas yang alhamdulillah lancar karena hasil dari ketelitian dan persiapan dan modal yang mumpuni.

Banyak orang yang kenal dengan Giovanny tahu kalau komunikasi aku dengan kakakku itu intens hampir tiap jam exchanging message via KakaoTalk. Setiap hari memang kami saling chat-an dan God only Knows ini start dari tahun berapa. Jadi, 70% urusan sehari-hari kami setidaknya tertulis di app yang sahamnya paling makjleb di Korea ini. 

Balik lagi ke timeline yang segitu padetnya ndak bakalan jalan kalau bukan dari Ridho-Nya dan usaha yang diperjuangkan. Start bulan Oktober udah mulai planning-planning, Bulan November mulai izin-izin (Ke Nani, ke Kakak, ke Bos, dan ke orang terdekat) diikuti reservasi ina itu. Lalu bulan Desember urus berkas, manage keuangan, tes TBC (iyah, salah satu persyaratan visa), terus info-info lagi ke orang terdekat sampai akhirnya e-Paspor kelar, lanjut submit visa. 

Bulan Januari ketar-ketir menunggu visa, tiket pesawat belum dibeli sementara ngurusin pekerjaan lebih di forsir karena harus adjustment transisi dari hybrid ke WFH full sampai di rumah pun mencicil barang pribadi dan titipan yang akan di bawa (harus percaya diri approved karena sangat amat mepet jika bebelian dilakukan setelah visa approved). Januari ini juga maju mundur untuk should i say goodbye now or later dikarenakan I don’t want to get to the rock bottom after working hard on this plan to finally have to say goodbye to good opportunities. Hingga akhirnya setelah drama anxious, panik banyak pikiran karena visa (menceritakan kekhawatiran ini ke beberapa orang terdekat untuk minta di tenangkan karena saking ngerinya visa ditolak)... akhirnya hari Senin tgl 12 Januari 2025, visaku approved, syukur alhamdulillah, lanjut beli tiket pesawat yang sesuai dengan pertimbangan ina itu, dan finalize barang bawaan.

In the midst of it all, I make time to see my friends. Dengan energi yang alhamdulillah-nya masih gacor, I said goodbye face to face and get to spending time with them. Even though agak sedih karena harus ke airport sendiri, tapi aku bersyukur dapat abang bluebird baik (eh?) No no, aku bersyukur they sent me away with a lot of good words and prayers.

Sekarang, rasa syukurku datang tiap waktu. Ditambah di bulan baik ini dikasih kesempatan lagi untuk beribadah puol-puol-an sembari memperbaiki diri dan berusaha menjadi manusia yang bermanfaatnya berlipat lipat. Karena percayalah, Allah akan mengatur hajatmu in the best way every human ever asked. TAKBIR! ALLAHU AKBAR.

Bongdam-eup, Hwaseong-si, 07.56

All post locked will be opened if you input “gigiyoyo” when they asked for password